1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Ikuti HALUAN di:

FacebookTwitterYoutubeLinkedinFlickr

Haniyya: Palestin Tetap Milik Warga Palestin

12 Dis - Perdana Menteri Palestin kerajaan pimpinan Hamas di Gaza, Ismail Haniyya, menyatakan pada hari Rabu yang lalu bahawa Palestin adalah milik warga Palestin dan akan tetap kekal untuk warga Palestin, dari sungai ke laut, dan bahawa warga Palestin akan sentiasa mempertahankannya. Kenyataan Haniyya adalah sempena meraikan tahun ke 22 kelahiran Hamas di Gaza City. Ribuan orang berbaris di jalan-jalan Gaza meraikan ulang tahun Hamas dan menyatakan sokongan kepada kerajaan terpilih, dipimpin oleh Perdana Menteri, Ismail Haniyya. Bercakap kepada warga Palestin, Haniyya mengatakan bahawa, insya Allah, Hamas akan merayakan ulang tahun berikutnya di Baitulmuqaddis, dan menambah bahawa bangsa Palestin, generasi ke generasi, akan sentiasa mencari pembebasan Palestin, dari sungai ke laut. Warga Palestin menunggang kuda, memandu kereta dan bermotorsikal, berbaris dari bahagian utara Semenanjung Gaza menuju ke rumah Allahyarham pemimpin Hamas Kitab Suci, Ahmad Yassin, dan kemudian berjalan menuju ke rumah pemimpin Hamas Mahmoud Zahhar dan Ismail Haniyya, sebelah barat bandar Gaza, dan kemudiannya menuju ke Syeikh Radwan  dimana lokasi utama sambutan program diadakan.immec

Call From Gaza For Global Response To Killings On The Freedom Flotilla

PRESS RELEASE GAZA, PALESTINE 31.MAY.2010 CALL FROM GAZA FOR GLOBAL RESPONSE TO KILLINGS ON THE FREEDOM FLOTILLA We, Gaza based Palestinian Civil Society Organizations and International activists, call on the international community and civil society to pressure their governments and Israel to cease the abductions and killings in Israel’s attacks against the Gaza Freedom Flotilla sailing for Gaza, and begin a global response to hold Israel accountable for the murder of foreign civilians at sea and illegal piracy of civilian vessels carrying humanitarian aid for Gaza. We salute the courage of all those who have organized this aid intervention and demand a safe passage through to Gaza for the 750 people of conscience from 40 different countries including 35 international politicians intent on breaking the Israeli-Egyptian blockade. We offer our sincerest condolences to family and friends who have lost loved ones in the attack. By sailing directly to Gaza, outside of Israeli waters, with cargo banned illegally by Israel, such as the 10,000 tonnes of badly needed concrete, toys, workbooks, chocolate, pasta and substantial medical supplies, the flotilla is exercising international law and upholding article 33 of the Geneva Convention which clearly states that collective punishment is a crime against humanity. The hardships of Israel’s closure of Gaza have been well documented by all human rights groups operating, most recently by Amnesty International in their Annual Human Rights Report concluding that the siege has “deepened the ongoing humanitarian crisis. Mass unemployment, extreme poverty, food insecurity and food price rises caused by shortages left four out of five Gazans dependent on humanitarian aid. The scope of the blockade and statements made by Israeli officials about its purpose showed that it was being imposed as a form of collective punishment of Gazans, a flagrant violation of international law.” The United Nations continuously states that only a fraction of the required aid is entering the Strip due to what it calls ‘the medieval siege’, with John Ging the Director of UNRWA in Gaza specifically expressing the need for the Flotilla to enter Gaza. The European Union’s new foreign affairs minister Catherine Ashton has just reiterated its call for, “an immediate, sustained and unconditional opening of crossings for the flow of humanitarian aid, commercial goods and persons to and from Gaza.” The people of Gaza are not dependent people, but self sufficient people doing what they can to retain some dignity in life in the wake of this colossal man-made devastation that deprives so many of a basic start in life or minimal aspirations for the future. We, from Gaza, call on you to demonstrate and support the courageous men and women on the Flotilla and join the, many now murdered on a humanitarian aid mission. We insist on severance of diplomatic ties with Israel, trials for war crimes and the International protection of the civilians of Gaza. We call on you to join the growing international boycott, divestment and sanction campaign of a country proving again to be so violent and yet so unchallenged. Join the growing critical mass around the world with a commitment to the day when Palestinians are entitled to the same rights as any other people, when the siege is lifted, the occupation is over and the 6 million Palestinian refugees are finally granted justice. Press Contacts: Dr Haidar Eid: One Democratic Sate Group and University Teachers’ Association Dr Mona El Farra: Middle East Children’s Alliance, Gaza 00.972(0)598.868.222 Adie Mormech: International Solidarity Movement 00.972(0)597.717.696 Max Ajl: Gaza Freedom March 00.972(0)597.750.798 Signatory Organisations: The One Democratic State Group University Teachers Association Arab Cultural Forum Palestinian Students’ Campaign for the Academic Boycott of Israel Association of Al-Quds Bank for Culture and Info Popular Committee against the Wall and Settlements International Solidarity Movement Palestinian Network of Non-Governmental Organisations Palestinian Women Committees Progressive Students Union Medical Relief Society The General Society for Rehabilitation Gaza Community Mental Health Program General Union of Palestinian Women Afaq Jadeeda Cultural Centre for Women and Children Deir Al-Balah Cultural Centre for Women and Children Maghazi Cultural Centre for Children Al-Sahel Centre for Women and Youth Ghassan Kanfani Kindergartens Rachel Corrie Centre, Rafah Rafah Olympia City Sisters Al Awda Centre, Rafah Al Awda Hospital, Jabaliya Camp Ajyal Association, Gaza General Union of Palestinian Syndicates Al Karmel Centre, Nuseirat Local Inititiative, Beit Hanoun Union of Health Work Committees Red Crescent Society Gaza Strip Beit Lahiya Cultural Centre Al Awda Centre, Rafah

Memperingati 61 Tahun Peristiwa Nakbah

Nakbah adalah suatu kata yang agak asing di telinga kita, ramai kalangan kita mungkin tertanya-tanya, apakah yang dimaksud dengan nakbah itu?Berbeza dengan telinga bangsa Arab, khususnya rakyat Palestin, kata nakbah sudah mereka kenal dan mereka fahami maknanya, bahkan kata nakbah tidak akan pernah dilupakan dalam perjalanan hidupnya dimanapun mereka berada. Nakbah telah menjadi sebahagian dari sejarah bangsa Palestin, sejarah yang tidak boleh terulang lagi sampai bila pun juga, sejarah yang sangat memilukan untuk dikenang, sejarah yang sangat menyedihkan untuk diingat kembali, sejarah kelam bangsa Palestin. Nakbah dapat didefinisikan: “Suatu musibah, bencana atau malapetaka bagi rakyat Palestin yang disebabkan oleh kebiadaban teroris Israel sehingga mereka meninggalkan rumah dan kampung halamannya untuk hijrah menyelamatkan iman dan jiwa serta harta benda yang masih dimiliki”. Pada saat itu, di era tahun 1948, tepatnya bulan April, rakyat Palestin dikejar, diburu, bahkan dibunuh secara keji oleh gerombolan teroris Israel, sehingga mereka yang selamat melarikan diri ke Lubnan, Syiria, Jordan, Mesir, Yaman dan beberapa negara Teluk, sehingga saat ini mereka tidak dapat pulang ke rumah, tidak dapat kembali ke kampung halamannya. Akibat perbuatan kejam yang dilakukan gerombolan tentera Israel pada tahun 1948 menyebabkan 270 ribu orang terusir dan 530 perkampungan Palestin hancur, rumah penduduk banyak yang rata dengan tanah, harta, tanah dan ladang kebunnya juga dirampas. Sehingga saat ini rakyat Palestin yang berada di luar tanah airnya dan berstatus sebagai pelarian berjumlah sekitar 4.830 juta orang (50,55 %). “(iaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali kerana mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. (QS:Al Hajj/22 : 40). Walaupun peristiwa Nakbah sudah berlangsung 61 tahun, akan tetapi kisahnya sangat sukar dilupakan oleh rakyat Palestin khususnya, dan orang yang memiliki hati nurani serta akal sihat pada umumnya, kerana begitu dasyatnya kekejaman yang dilakukan oleh tentera zionis Israel kepada anak-anak yang tidak berdosa dan orang-orang tua yang sudah uzur. Tanggal 9 April 1948, sekitar 35 hari sebelum berdirinya “negara Zionis Israel”, terjadi pembantaian yang sangat mengerikan di desa Deir Yassin. Tiga gerombolan askar Zionis Israel, Haganah, Irgun, dan Stern Gang menyerang desa yang terletak di sebelah barat Baitul Maqdis atau Jerusalem. Lebih daripada 100 orang, baik yang muda, wanita, dan anak-anak dibantai secara sadis. Sebahagian korban ada yang yang dicincang dan diperkosa sebelum dibunuh, ada 25 orang lainnya dari desa itu diarak hingga ke Jerusalem lalu mereka di ”lenyapkan”. Ramai kalangan Zionis Israel menceroboh ke desa itu, mereka merampas dan merebut rumah serta tanah yang ditinggalkan pemiliknya kerana telah dibunuh dan sebahagian lainnya pergi menyelamatkan diri. Nama Deir Yassin diubah dengan nama Ibrani dan desa Palestin itu lenyap dari peta dunia dan tidak berbekas. Bagi rakyat Palestin, Deir Yassin adalah simbol hilangnya tanah kampung halamannya. Warga Palestin Tiberius pada tanggal 18 April 1948 mengalami mimpi ngeri yang serupa, penangkapan dan pembantaian yang dilakukan oleh gerombolan tentera Irgun pimpinan Menachem Begin, beliau pernah menjawat jawatan sebagai Perdana Menteri Israel dari partai Likud (21 Jun 1977 - 10 Oktober 1983). Akibat tindakan keji tersebut menyebabkan 5,500 orang rakyat Palestin, meninggalkan desanya, menjadi pelarian menyelamatkan diri. Tanpa ada perasaan letih, gerombolan teroris Israel terus melakukan kekejaman dan tindakan sadis bahkan terhadap anak-anak yang tidak berdosa, maka sekitar 70,000 orang rakyat Palestin menjadi pelarian meninggalkan tanah air tercintanya dengan perasaan sedih dan linangan air mata, akhirnya kota Haifa jatuh ke tangan gerombolan teroris Zionis Israel. Gerombolan teroris Irgun terus melakukan dajal, pada 22 April 1948, mereka mengembom kemudahan-kemudahan milik rakyat awam di kota Jaffa, kota terbesar di Palestin pada saat itu, sehingga sekitar 750,000 orang rakyat Palestin ketakutan dan panik melarikan diri. Di saat itu, dikota tersebut hanya tersisa sekitar 4,500 orang yang keadaan mereka sangat menderita dan pada 14 Mei 1948 gerombolan teroris Zionis Israel berhasil menguasai kota Jaffa “Mengapa kamu tidak mahu berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita mahupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluar­kanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”. (QS: An Nisaa / 4 :75)”. Ya Allah lindungi saudara-saudara kami, umat Nabi Muhammad saw di Palestin dari pelbagai macam malapetaka, berilah kesabaran kepada mereka dalam menghadapi setiap musibah. Amin.

Ustaz Haji Ferry Nur

Ketua KISPA

Dr Sami Abu Zuhri: Peperangan di Gaza hanyalah satu permulaan

[caption id="attachment_2020" align="aligncenter" width="298" caption="Dr Sami Abu Zuhri (kiri) bersama Ahmad Husein Abu Husam di Dewan Sivik Petaling Jaya pada 10 Februari 2009. "]Dr Sami Abu Zuhri bersama Ahmad Husein Abu Husam di dewan Sivik Petaling Jaya pada 10 Februari 2009. [/caption] Serangan dahsyat tentera Zionis Israel ke atas penduduk Gaza merupakan hanya salah satu rentetan dari sejarah keganasan mereka sejak lebih 60 tahun lalu. Tidak siapa dapat melupakan penyembelihan amat dahsyat yang mereka lakukan di Sabra dan Shatila pada bulan September 1982. Ada yang melaporkan tragedi Sabra dan Shatila mengorbankan 3500 orang, walaupun peristiwa itu tidak dapat dilaporkan dengan tepat kerana strategi Israel laknatullah menyekat kemasukan media dan seterusnya menghapuskan sebarang kesan atau bukti aksi kebinatangan mereka tersebut. Penghuni Sabra dan Shatila dibunuh beramai-ramai, bayi-bayi dalam buaian disembelih, wanita-wanita diperkosa... apa lagi kalau tidak disebut sebagai aksi binatang, bahkan jauh lebih hina dari binatang yang tidak berakal. Itulah bala tentera kejam yang dipimpin oleh Ariel Sharon menggunakan militia Palangis untuk melakukan kemusnahan. Zionis akan terus melakar sejarah besar sebegitu. Permusuhan Zionis dan sekutunya terhadap mereka yang menentang perancangan jahat mereka tidak akan terhenti sehinggalah mereka menjadi raja dan menghapuskan semua makhluk penentang tadi. Mereka akan melakukan apa sahaja yang perlu tanpa rasa takut kepada sesiapa saja. Namun kita yakin Allah tidak akan mengizinkan begitu. Apa lagi di atas bumi Palestin yang mulia dan suci. Sebuah hadith Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berbunyi, "Akan sentiasa akan ada sekelompok dari umatku yang sentiasa berjuang bersama-sama kebenaran, mencabar dan menentang musuh-musuh mereka. Musuh-musuh mereka tidak dapat memberi mudarat kepada mereka sehingga Allah mendatangkan keputusannya. Mereka tetap dalam keadaan demikian.” Maka para sahabat bertanya, ”Dimanakah mereka ya Rasulullah?” Jawab Rasulullah "Di Baitul Maqdis dan sekitarnya." Sungguh, kejadian peperangan di Gaza menyaksikan betapa benarnya ayat-ayat Allah dan sabda Rasulullah saw. Suka saya berkongsi sedikit maklumat yang disampaikan oleh seorang jurucakap kanan kepada kerajaan Palestin di Gaza, Dr Sami Abu Zuhri, bersama seorang lagi pejuang Palestin Ahmad Husein Abu Husam yang sempat singgah di negara kita untuk menceritakan apa yang telah berlaku di Gaza dan Palestin secara umumnya. Sebagaimana yang kita maklum, serangan ke atas Gaza didahului dengan kepungan yang amat dahsyat selama setahun setengah. Akibat kepungan dan sekatan tersebut, penduduk Gaza tidak mendapat bekalan asas seperti makanan, ubatan, elektrik dan sebagainya. Rakyat Gaza hidup dalam serba kesusahan, tidak mempunyai perkerjaan untuk menyara keluarga, disekat dari dunia luar. Itu semua adalah satu usaha untuk membenamkan penentangan rakyat Palestin terhadap Israel. Tetapi usaha itu ternyata gagal. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadis Rasulullah tadi, bumi Palestin melahirkan jiwa-jiwa yang sentiasa berjuang memikul kebenaran, menentang musuh-musuh mereka. Bukan saja dari kalangan pemuda dan lelaki dewasa, bahkan kanak-kanak dan wanita mereka juga berjiwa demikian. Apabila kepungan itu gagal maka barulah mereka berusaha untuk melakukan serangan ke atas Gaza. Tetapi malang bagi Zionis Israel dan sekutunya, serangan itu juga gagal. Antara usaha mereka ialah untuk menghancurkan pejuang-pejuang Palestin, termasuklah kerajaan sah pilihan rakyat Palestin iaitu Hamas. Kata Dr Sami Abu Zuhri, "Tetapi Hamas masih kekal dan boleh berkunjung ke merata dunia, termasuk Malaysia," (untuk menerangkan apa yang berlaku di Gaza.)   Peperangan di Gaza melibatkan penggunaan teknologi dan senjata yang sangat canggih. Malahan, tentera Zionis mengerahkan lebih 100 buah jet pejuang F-16 buatan Amerika yang termoden, disamping menggunakan peluru berpandu dan peluru kimia. Tetapi malangnya jet-jet dan semua senjata ini digunakan untuk menghadapi wanita dan kanak-kanak yang tidak bersenjata dan lemah, berterusan tanpa henti selama 3 minggu.   Menurut Dr Sami, apa yang tentera Zionis lakukan dalam serangan ini ialah menghancurkan rumah, hospital dan kemudahan awam. Mereka mengumpulkan keluarga-keluarga yang banyak dalam sebuah rumah dan di situ mereka dibunuh dan dihancurkan dengan bom. Sekolah-sekolah diruntuhkan, dan semua universiti dimusnahkan dengan letupan bom. Antara senjata yang digunakan ini adalah senjata yang diharamkan di peringkat antarabangsa, sampai ke peringkat yang boleh mengugurkan daging daripada tulang-tulang manusia.   Kata Dr Sami lagi, "Serangan ini juga bertujuan untuk menjadikan Gaza dan Hamas menyerah, tetapi Hamas terus melakukan tentangan yang diketuai oleh Briged al-Qassam. Roket-roket dapat dilancarkan oleh Briged al-Qassam walaupun mereka menghadapi serangan bertubi-tubi daripada jet pejuang Israel. Roket-roket al-Qassam tidak hanya mengenai kawasan sekitar Gaza, tetapi juga di beberapa tempat strategik di beberapa bandar Israel. Usaha menjatuhkan Gaza gagal, dan pejuang-pejuang Palestin dan Hamas berjaya, bahkan mereka dapat menghadapi semua itu dengan kejayaan."   Spesifikasi teknikal roket yang digunakan Briged al-Qassam hanya boleh mencecah sekitar 40km sahaja. Tetapi dalam peperangan menentang Zionis ini, roket tersebut boleh sampai ke kawasan hampir dengan Tel Aviv, iaitu lebih dari 60km. Hanya Allah yang Maha Tahu bagaimana roket-roket itu boleh sampai ke sana, malahan mengenai sasaran strategik seperti kem pertahanan Israel.   Ada dua objektif utama serangan Israel terhadap Gaza, iaitu untuk menghancurkan roket-roket Briged al-Qassam dan seterusnya menghancurkan pejuang Palestin termasuk kerajaan Hamas. Tetapi kedua-duanya gagal dilakukan Israel. Malahan kanak-kanak dan wanita-wanita Gaza juga bersama menghadapi penentangan tersebut, bukan hanya sekadar memberi sokongan. Rakyat Gaza kini berebut untuk berjuang menentang Israel. Begitu juga dengan pemimpin-pemimpin kerajaan di Gaza, sebagaimana dinyatakan oleh Ahmad Husein bahawa Perdana Menteri, Ustaz Ismail Haneyya, juga turut ke perbatasan memikul senjata.    Banyak terdapat mukjizat yang menunjukkan pertolongan Allah. Kata Dr Sami, "Apa yang berlaku ke atas Gaza tidak dapat dinilai berdasarkan nilaian material. Tapi saya yakin, sesungguhnya Allah bersama dengan kami. Kerana itulah kejayaan dapat ditempuhi oleh Gaza dan (pejuang Palestin) Hamas."   Tentera Israel telah membuat pengakuan bahawa mereka dapat menyaksikan tentera yang berpakaian putih, tetapi sebenarnya tentera mujahidin di Gaza tidak mempunyai pakaian begitu. Ada juga yang menyaksikan seorang tentera berpakaian putih yang tingginya sampai ke langit.   "Ada juga tentera Israel yang tidak dapat melihat kerana dia merasakan salah seorang dari tentera mujahidin telah mencampakkan kepada mereka sesuatu yang menyebabkan mereka tidak dapat melihat. Allah swt berfirman, 'sekiranya kamu menolong Allah, Allah akan tolong kamu dan menetapkan langkah-langkah kamu.' Oleh itu kami sangat yakin pertolongan Allah turun di Gaza, kerana itu kami mencapai kemenangan," hujah Dr Sami lagi.   Ahmad Husein sempat juga menceritakan bagaimana seorang pemuda Palestin yang berwasiat supaya dikebumikan bersebelahan kuburan ayahnya yang telah syahid 6 tahun lalu. Apabila pemuda tersebut syahid, digali kuburan bersebelahan ayahnya sebagai memenuhi hajat beliau. Sangat mengejutkan apabila mereka dapati kain kafan ayahnya yang syahid 6 tahun lalu masih elok dan mayatnya berbau wangi seperti kasturi. Dr Sami menyambung syarahannya, "Pada musim panas yang lalu Gaza telah mengeluarkan 5,000 hafiz al-Quran. Dan kami akan menyediakan untuk musim panas yang akan datang 10,000 hafiz al-Quran. Oleh kerana itu kami sangat yakin bahawa mereka (usaha serangan Israel) akan gagal." Begitulah hakikat kekuatan yang ada pada Palestin. Malahan apa yang terjadi di Gaza tentu membingungkan rejim Zionis dan sekutunya. Bagaimana negara yang begitu kecil dan sekian lama disekat daripada dunia luar mampu bertahan menghalau tentera penceroboh dari menakluki bumi mereka?   "Mungkin anda saksikan di media bahawa Gaza itu sebuah negara yang besar. Tapi sebenarnya ia adalah sebuah negara yang kecil, lebih kurang 360km persegi. Walaupun negara ini kecil, kami dapat menghadapi serangan yang begitu hebat daripada Yahudi. Dan kejayaan yang diperolehi begitu besar, lebih besar daripada apa yang berlaku pada 1967," ujar Dr Sami lagi.   Walaupun merasa amat bersyukur atas kekuatan dan kemenangan yang dicapai, Dr Sami merasakan bahawa Palestin sangat memerlukan bantuan untuk membina semula negaranya yang musnah. Sokongan dari seluruh dunia terhadap perjuangan Palestin kini menyerlah. Konspirasi Zionis tidak lagi dapat mengelaburi mata manusia yang melihat dan berfikir. "Benar, Gaza telah berjaya tetapi kita yakin peperangan ini belum berakhir. Di sana terdapat 10,000 rakyat yang masih belum memiliki rumah dan sempadan masih lagi ditutup, mereka masih lagi dikepung. Oleh kerana itu kami menyeru anda semua untuk terus memberikan sokongan dan bantuan dalam segala bentuk, kami masih lagi menderita dengan pelbagai penderitaan," kata Dr Sami.   Bagi pihak kerajaan Palestin di Gaza, mereka juga melakukan beberapa pertemuan dan perbincangan dengan pegawai Mesir yang bertujuan supaya pintu dibuka dan bantuan dapat masuk ke sana.   Rejim Zionis meletakkan kamera dan kawalan di sempadan untuk memastikan bahawa senjata tidak masuk ke Gaza. Begitu juga mereka meletakkan penguasaan di laut untuk memastikan senjata tidak masuk ke Gaza. "Tetapi kami ingin jelaskan bahawa kami akan memperoleh senjata tersebut daripada bawah bumi ataupun dari atas bumi. Penentangan ini akan berterusan dan kami bersedia untuk menghadapi apa jua cabaran di masa hadapan," tegas Dr Sami. Yang jelas, kekejaman Zionis Israel tidak hanya berlaku di Gaza. Ketika mata dunia terpacak ke Gaza, Zionis terus melaksanakan perancangan mereka di Tebing Barat, khususnya di sekitar Masjid al-Aqsa. Malahan mereka terus menggali terowong-terowong di bawah Masjid al-Aqsa sebagai usaha untuk cuba meruntuhkan masjid mulia tersebut. Itulah yang mereka rancangkan sejak puluhan tahun yang lalu, iaitu untuk membina "Haikal Sulaiman" di atas runtuhan Masjid al-Aqsa dan seterusnya menjadikan Baitumaqdis sebagai pusat pemerintahan Zionis antarabangsa. Dr Sami menegaskan, "penjajahan masih berterusan dan kami yakin bahawa permusuhan ini akan berterusan. Oleh kerana itu kami akan sentiasa bersedia untuk menghadapinya. Saya ingin menegaskan di sini bahawa penentangan Hamas terhadap rejim Israel bukan hanya di Gaza tetapi juga sudah pastinya di al-Quds dan masjid al-Aqsa. Penentangan ini akan berterusan, Gaza adalah merupakan satu permulaan bukan pengakhiran. Kami akan meneruskan perjuangan ini." "Peperangan ini merupakan peperangan yang bersifat antarabangsa yang sebenar kerana ia melibatkan pihak-pihak di semua peringkat antarabangsa dan serantau. Kita yakin konspirasi yang mereka lakukan ini akan gagal. Sebenarnya dunia keseluruhannya bersatu bersungguh-sungguh untuk menentang Islam, maka anda hendaklah bersama dengan kami membantu memenangkan Islam," jelasnya lagi. Dalam mengakhiri kuliahnya, Dr Sami terus memberi pesanan yang sangat penting kepada seluruh umat Islam. "Peperangan di Gaza bukan hanya untuk membela dan menjaga Palestin tetapi sebenarnya untuk menjaga kemuliaan Islam dan umat Islam. Oleh kerana itu jika sekiranya anda bersama dengan kami membantu Gaza dan pejuang Palestin, maka itu beerti anda membela umat Islam keseluruhannya," sambung Dr Sami.   Inilah janji Dr Sami sebagai mewakili pejuang Islam di Palestin, "Apa yang mereka (Zionis) kehendaki adalah supaya kita (pejuang Palestin dan Hamas) menyerah diri dan mengiktiraf Israel. Tetapi saya tegaskan bahawa Hamas sama sekali tidak akan tunduk dan menyerah diri kepada Israel. Hamas berjanji kepada Allah untuk meneruskan perjuangan ini sehingga ke penghujung jalan kerana apa yang kami lakukan adalah samada kemenangan atau mati syahid di jalan Allah. Itulah juga janji kami kepada anda sekelian." Begitu tersentuh hati saya dengan kata-kata tersebut, sehingga menitis air mata. Memang, sudah berkali-kali air mata saya menitis melihatkan sengsara mereka, tetapi kali ini saya begitu sebak kerana memikirkan betapa mereka berjuang memikul bebanan seluruh umat Islam menentang agenda kufar. Mereka menyerahkan segala apa yang ada, termasuklah jasad dan roh mereka, untuk menentang Zionis laknatullah. Sedangkan kita masih dibuai kemewahan, dan terus mengejar kemewahan, tanpa sedikitpun merasa pedih sebagaimana mereka berhadapan dengan peluru dan bom Israel. Mereka sekian lama ditindas, tetapi kita tidak lansung peduli dan terus sibuk dengan kehidupan seharian kita.   "Matlamat kami adalah untuk mencapai kemenangan atau syahid di jalan Allah swt. Sebagaimana kami tegaskan sebelum ini. Kami akan terus dengan perjuangan ini. Maka kami berharap anda sekelian juga terus dalam perjuangan ini. InsyaAllah kemenangan akan bersama dengan Islam." Itulah ayat terakhir Dr Sami dalam syarahannya.   Sebagai memenuhi permintaan kepada satu nasihat, Ahmad Husein menjawab, "Anda mempunyai peranan yang besar. Pertamanya gunakanlah suara anda, nyatakan sikap dan fakta yang betul berkenaan perjuangan di Palestin. Juga, hulurkanlah doa terutamanya di waktu malam. Doa adalah senjata untuk orang Mukmin. Kemudiannya, sumbangkanlah sedikit dari harta anda. Gaza memerlukan wang yang banyak untuk dibangunkan semula." Ya! Kita ada peranan yang besar, walaupun tanpa perlu mengangkat kaki melangkah ke bumi Palestin. Lakukanlah saranan itu semaksima yang boleh, agar kita tergolong dari kalangan mereka yang berjuang mempertahankan bumi Palestin, bumi wakaf umat Islam yang ditinggalkan oleh pejuang terdahulu untuk kita bebaskan dari kekejaman. Yakinlah, yakinlah, bahawa kita semua akan disoal di akhirat kelak. Rugilah kita jika hanya mendengar dan melihat tanpa disusuli dengan tindakan yang bersungguh-sungguh! Renungkanlah ayat berikut sebagai amaran dan motivasi kepada kita: “Dan infaqkanlah sebahagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang daripada kamu; lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedeqah dan aku termasuk orang-orang yang soleh.’” [Surah Al-Munaafiqun ayat ke-10] [email_link]          [print_link]

Anugerah Jubli Israel

Pada 14 Oktober 1998, laman web Virtual Israel menyatakan Perdana Menteri Israel Netanyahu telah menyampaikan anugerah penghormatan yang paling tinggi pernah diberi oleh Israel kepada beberapa kumpulan peniaga antarabangsa. Anugerah Jubli sempena sambutan kemerdekaan Israel ke-50 tersebut mengiktiraf individu-individu dan badan-badan yang telah mengukuhkan ekonomi Israel melalui pelaburan dan jalinan perniagaan. Senarai anugerah dibahagikan mengikut negara asal perniagaan dan juga mengikut industri. Angkasalepas
  • Dr. Vance Coffman Lockheed Martin Corporation
  • Mr. Karl J. Krapek Pratt & Whitney
  • Mr. Harry Stonecipher Boeing
Otomotif
  • Dr. Ferdinand Piech Volswagon AG
Bahan Binaan
  • Dr. John M. Schubert Pioneer International Ltd
  • Mr. Peter L. Young RMC Group plc
Kimia
  • Dr. John J. Faber ICC Industries Inc.
  • Mr. Arie Genger Trans-Resources Inc
Perdagangan
  • Sir Richard Greenbury Marks & Spencer
  • Mr. J. E. Lagerweij Hema B.V.
  • Mr. David Mandle James Richardson Pty.Ltd
  • Dr. Michael Otto Dr. Michael Otto
  • Mr. Joseph Wilf Garden Homen
Berlian
  • Mr. Nicholas Frank Oppenheimer De Beers Consolidated Mines Ltd
Kewangan
  • Mr. Michael Abeles JGL Investments
  • Mr. Ted Arison Arison Investments Ltd.
  • Mr David Azrieli Canpro Investment Ltd.
  • Mr. Jan Baan Baan Company
  • Mr. Paul Bann Baan Foundation
  • Mr. Ronald Cohen Apax Partners & Co . Ltd
  • Mr. Erwin D. Eisenberg Eisenberg Group
  • Dr. Leslie Fritz Gunther Frankel Altira Investments Ltd
  • Mr. Robert J. Hurst Goldman Sachs & Co.
  • Mr. Jonathan Kolber Claridge Foundation
  • Mr. Stephen Koseff Investec Bank Ltd.
  • Mr. Bruce Rappaport Inter-Maritime Group
  • Mr. Joseph Safra Banco Safra
  • Mr. Bernard Schreirer CP Holdings Ltd
Makanan
  • Mr. G. Allan Andreas Archer Daniel Midland
  • Mr. Peter Brabeck-Letmathe Nestle S.A.
  • Mr. Franck Riboud Danone
Kaca
  • Mr. William Davidson Guardian Industries Corp
Teknologi Tinggi
  • Mr. Eric Benhamou 3 Com
  • Mr. Richard H. Brown Esq Cable & Wireless
  • Mr Marshall Butler AVX Corporation and KYOCERA Corporation
  • Ms Judith Estrin Cisco Systems Inc.
  • Mr Christopher C. Galvin Motorola Inc.
  • Mr. Abraham Gesundheit Tensal International AG
  • Mr. Vladimir Goussinsky Most Media
  • Mr. Chek Ngee Khoo Hutchinson Telecommunications Ltd
  • Mr. Ronald Lauder RSL Communication Ltd
  • Mr. Ted Leonsis AOL studios
  • Mr. Ken Levy KLA-Tencor Corporation
  • Dr. Dan Maydan Applied Materials Inc.
  • Mr. Fernand B. Sarrat Cylink Corporation
  • Mr. Albert Soffa Kulicke & Soffa Industries Inc.
  • Dr. Heinrich Von Pierer Siemens
  • Dr. Felix Zandman Vishay Intertechnology Inc.
Perhotelan
  • Mr. David Lewis Isrotel Hotel Management
  • Mr. David Taic Nahal Group
  • Mr. Alexander Tesler Lexan-Israel Princess Hotel
Media
  • Mr. Vladimir Goussinsky Most Media
  • Mr. Ronald Lauder RSL Communications Ltd
  • Mr. F. David Radler Hollinger International Inc.
Personal Care
  • Mr. Pascal Castres St Martin L' Oreal
  • Mr. Roger S. Fine Johnson & Johnson
  • Mr. Leon Koffler Super-Pharm[Israel] Ltd
  • Mr. Lucien Nessim Sara Lee Personal Products
  • Mr. Robert P. Van der Merwe Kimberley-Clarke Europe
Farmaseutikal
  • Mr. Ernesto Bertarelli Ares Serono International
  • Harold Snyder Teva Pharmaceutical Industries
Plastik
  • Mr. Robert K. Kraft The Kraft Group and New England Patriots
  • Mr.John M. Trani The Stanley Works
Hartanah & Pembinaan
  • Mr. Sam Halpern Atlantic Reality Development Corporation
  • Mr.Henry Moskowitz Henry Moskowitz Real Estate
Pakaian
  • Mr. Michael A. Trachtenberg ICF Industries
Pengangkutan
  • Mr. John M. Beck Canadian Highways International Corporation
SUMBER: Islamic Human Rights Commision - www.ihrc.org

Rampasan ke atas kepercayaan Yahudi

[caption id="attachment_992" align="alignleft" width="290" caption="Yahudi ortodoks dari Neturei Karta mara ke jalanan di Jerusalem (al-Quds), mendesak tentera Israel hentikan operasi di Genting Gaza pada 7 Januari 2009."]Yahudi ortodoks dari Neturei Karta mara ke jalanan di Jerusalem (al-Quds), mendesak tentera Israel hentikan operasi di Semenjung Gaza pada 7 Januari 2009.[/caption] Operasi ketenteraan Israel ke atas rakyat Palestin masih berterusan walaupun setelah 60 tahun berada dalam suasana tegang, peperangan dan pertumpahan darah. Apa yang kebanyakan orang tidak dapat lihat adalah bahawa apa yang berlaku hari ini sebenarnya berakar-umbi dalam sejarah. Atas sebab-sebab tertentu, ramai yang terlupa bahawa penaklukan Israel ke atas Palestin telah dimulakan oleh Zionis atas apa yang mereka dakwa sebagai dasar-dasar agama. Penubuhan entiti Zionis telah diasaskan atas apa yang dijelaskan sebagai konsep suci dalam Bumi Yang Dijanjikan (the Promised Land.) Dalam mereka menafsir kitab Genesis (17: 7-9) dari Kitab Lama (Old Testament,) golongan Zionist berkata bumi Kanaan adalah kepunyaan orang Yahudi selama-lamanya. "Dan Aku akan anugerahkan kepada kamu, dan kepada anak selepas kamu, bumi di mana kamu adalah orang asing, seluruh bumi Kanaan, untuk pemilikan selama-lamanya; dan Aku adalah Tuhan mereka." "Dan Tuhan berkata kepada Ibrahim, kamu harus berpegang kepada perjanjian yang lalu, begitu juga kamu dan anak kamu selepas generasi kamu." Pada tanggapan mereka, surah-surah ini menjadi asas utama dalam konsep Bumi Yang Dijanjikan. Tetapi ini bukanlah pandangan yang diterima oleh semua golongan Yahudi. Ramai Yahudi Ortodoks dan kumpulan-kumpulan seperti Neturei Karta menentang penafsiran Zionis ini, malahan menyatakan bahawa "perjanjian" tersebut adalah berasaskan hanya ke atas kepatuhan manusia kepada kuasa Tuhan. Kitab Taurat menjelaskan dengan terperinci bahawa jika perjanjian tersebut dikhianati, Yahudi akan dihukum dengan kejinya dan dihalau. Pun begitu, mereka telah dua kali gagal dalam menunaikan tanggungjawab mereka. Setiap kali sebagai hukuman terhadap kegagalan tersebut, Kuil Jerusalem dimusnahkan dan Yahudi dihalau atau buang negeri. Sebilangan masih percaya pembuangan negeri tersebut masih berlarutan hingga ke hari ini. Kaum Arab telah membuat perjanjian dengan Ismail as, manakala kaum Ibrani berjanji dengan Isa as, di mana kedua-dua mereka adalah dari keturunan Nabi Ibrahim as. Malahan, mengikut konsep Yahudi dalam Bumi Yang Dijanjikan, kaum Arab dan Ibrani seharusnya mewarisi bumi tersebut secara sama rata sebagai keturunan Ibrahim as. Hari ini Israel terus meningkatkan serangan ke atas Gaza, mendakwa roket-roket Hamas mendedahkan mereka kepada satu bentuk ancaman yang strategik. Semua kita tahu bahawa Hamas tidak mempunyai senjata-senjata terkini, jadi bagaimana mungkin mereka dapat menimbulkan ancaman sebagaimana yang digambarkan oleh Israel. Masalah yang sebenarnya adalah samada Hamas akan terus mengancam Israel dengan mempertikaikan kesahihan kewujudan Israel. Kehadiran Hamas di atas pentas politik di Timur Tengah menunjukkan bahawa rejim Zionis gagal dalam objektif utama mereka -- untuk mengesahkan penaklukan ke atas bumi Palestin. Malahan, Israel sehingga kini bergelut dalam kalangan masyarakat mereka dan Yahudi yang anti Zionis, untuk mengesahkan penaklukan tersebut. Robert (Yisrael) Aumann, seorang cendikiawan Amerika-Israel, telah menyatakan bahawa Israel mungkin tidak akan mampu untuk terus wujud dalam jangka masa yang panjang. "Terlalu ramai Yahudi tidak faham mengapa mereka berada di sini. Jika kita tidak faham mengapa kita berada di sini, dan bahawa ini bukan Amerika atau suatu tempat untuk tinggal, kita tidak akan bertahan. Keinginan untuk hidup seperti bangsa-bangsa lain mungkin dapat bertahan untuk 50 tahun sahaja lagi, sekiranya kita masih berada di sini, " kata pemenang Nobel Prize ekonomi tersebut sebagaimana dipetik oleh akhbar Haaretz pada 17 November 2006. Inilah sebenarnya mengapa Israel sentiasa mendesak kepada negara-negara jiran untuk mengiktiraf kewujudannya sebagai klausa utama dalam perhubungan mereka. Oleh itu, masyarakat antarabangsa perlu menyelesaikan isu rampasan kepercayaan Yahudi oleh gerakan Zionis. Jika tidak, tidak akan wujud penyelesaian secara taktikal kepada masalah Israel-Palestin.