1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Ikuti HALUAN di:

FacebookTwitterYoutubeLinkedinFlickr

Terbukti Tentera Israel Kalah dalam Peperangan Mereka

yisrael_katz_lAnggota Parlimen Parti Likud, dan pakar di bidang perundangan, Yisrael Katz, menyatakan serangan ketenteraan Israel ke Gaza, mengalami kegagalan. Israel tidak mencapai  matlamatnya. Sebaliknya serangan tersebut menyebabkan ratusan tentera Israel terkorban. Pengakuan Katz membuka tabir, yang terang-benderang, yang selalu ditutupi oleh para pemimpin Israel, kini jelas Zionis-Israel menderita kerugian besar, akibat serangan kejam yang dilakukan terhadap Gaza.Katz  menegaskan, operasi ketenteraan ke Gaza, gagal seluruhnya, dan itu dibuktikan dengan pengumuman Perdana Menteri Israel, yang mengumumkan pernyataan bahawa Israel, secara sepihak (unilateral) menghentikan serangannya (gencatan) di Gaza, dan tanpa mampu memusnahkan kekuatan Hamas, dan tidak pula menghasilkan perjanjian penghentian pengiriman senjata, serta membebaskan Kopral Gilad Shalid. Akhbar The Observer yang terbit di London, akhbar ini memiliki pengaruh cukup luas di Britain, menulis berita, perang yang dilakukan Israel di Gaza, menimbulkan kekalahan secara ketenteraan dan moral. Selanjutnya, akhbar itu menulis, masalah keamanan Israel, tidak dapat diselesaikan hanya dengan menggunakan kekuatan ketenteraan. Cara berfikir para pemimin Israel itu, hanyalah mimpi belaka, dan sikap ini yang mendominasi majoriti para pemimpin Israel. Keputusan yang diambil tidak sama sekali berdasarkan fakta di lapangan, di mana akibat keganasan mereka itu telah menimbulkan korban awam yang sangat besar, bukan menghancurkan kelompok Hamas di Gaza. The Observer menambahkan, sebenarnya tujuan keganasan Israel itu ingin membatasi kemampuan ketenteraan Hamas, tapi mengapa harus menghancurkan seluruh infrastruktur yang ada di Gaza. Memang, Israel tidak dapat lagi membezakan antara tempat pejuang Hamas dengan fasiliti masyarakat umum, semuanya mereka hancurkan. Bahkan, pejabat PBB juga menjadi target tentera mereka. Menurut The Observer lagi, tindakan Israel yang ganas itu hanyalah menaikan populariti, simpati dan moral pejuang Hamas di Gaza. Hamas berhasil menyatukan Timur dan Barat, ketika menghadapi Israel. Seluruh dunia dari pelbagai kalangan agama, ahli politik, dan kelompok-kelompok yang ada semua mereka miliki pandangn yang sama, bahawa Israel menjadi ancaman perdamaian. Keganasan Israel itu, juga menciptakan kesedaran yang sifatnya kolektif di kalangan masyarakat antarabangsa. Dr.Abdelsattar Qassem, seorang professor dibidang ilmu politik di Najah Nasional Universiti, yang berada di kota Nablus, perang yang terjadi di Gaza, hanya menjadikan Hamas, sebagai kekuatan perjuangan yang sangat dikagumi di kalangan penduduk, dan kemampuan bertahan selama 22 hari menghadapi gempuran militer Israel, sangatlah mengagumkan. Selanjutnya, Dr.Qassem menambahkan populariti Hamas, sekarang ini menyebar ke seluruh dunia Arab, dan seluruh kalangan Gerakan Islam, dan menjadikan Pihak Berkuasa Palestin (PA) yang dipimpin Presiden Mahmud Abbas, tersungkur, ujar Dr. Qassem lagi. Israel gagal menusuk dari belakang Gaza untuk menghancurkan Hamas, dan kelompok pejuang Palestin itu berhasil memberikan persaingan yang sengit, sehingga pasukan ketenteraan Israel gagal mencapai tujuannya menghancurkan seluruh kemampuan ketenteraan Hamas. Israel dan para pemimpin Israel, termasuk Perdana Menteri Israel, Ehut Olmert. Impian para pemimpin Zionis-Israel akan memenangkan perang di Gaza melawan Hamas, sudah berlalu. Dan, hanya tinggal impian, kerana menurut Dr.Qassem kekuatan pasukan Hamas, mereka memiliki kemampuan pertahanan yang cukup baik, dan akhirnya dapat memenangi episod perang ini, ketika berhadapan dengan pasukan Israel, yang memiliki kemampuan senjata yang amat modern. (M/Pic).

Kebersamaan Kita Dalam Perjuangan Membebaskan Palestin

Permasalahan Palestin sejak mendekati satu abad ini menjadi orbit asasi terhadap pertikaian abadi antara projek penjajahan zionis Amerika dan bangsa Arab serta umat Islam, seakan pertikaian ini sudah mengakar dan menyatu dalam negeri Palestin, perampasan yang dilakukan oleh tangan-tangan najis zionis, dan penguasaan mereka atas negeri-negeri Eropah dan negeri Islam, bahkan kekuasaan mereka sebagai satu Negara menjadi anggota dalam tubuh PBB, mencerai beraikan rakyat Palestin dan mengusirnya dari negeri mereka sendiri dalam jumlah yang sangat besar hingga sekitar 7 juta orang, dan yang hidup di dalam Jalur Gaza dan Tepi Barat berjumlah 5 juta, hingga saat ini pertikaian masih terus berlangsung. Namun generasi-generasi baru tetapkan muncul bersamaan dengan orang tua dan datuk-datuk mereka yang mujahid, membentuk kelompok-kelompok dan lembaga-lembaga perlawanan melawan zionis sang teroris, dan perlawanan ini juga terus berlangsung dan bertambah kuat dan tetap teguh dari hari ke hari. Dan disaat perjalanan permasalahan Palestin yang penuh darah ini, bangsa Palestin dihadapkan pada berbagai konspirasi, sehingga berkobar pelbagai peperangan, pembunuhan, pembantaian, penjara dan penangkapan..semua itu dan banyak lagi yang dilakukan oleh Zionis; tipu daya yahudi Zionis dan sebahagian gonggongan dan makar mereka, disamping adanya dukungan dan taktik dari kekuatan yang besar di dunia, terutama dari Amerika; dengan berbagai kekuatan, pasukan dan kekejiannya, namun pasukan perlawanan yang muncul sejak pertengahan pertama abad yang lalu yang dibawa oleh para mujahidin terus berjuang dan berjihad -sekalipun pelbagai usaha jahat si Zionis Yahudi lakukan ke atas mereka. Semakin hari semakin berkobar aksi kebangkitan dan intifadhah, menggelorakan pasukan perlawanan, dan membangkitkan kembali pasukan Izzuddin Al-Qossam dan para pasukan perlawanan Fatah dan Al-Jihad serta yang lain-lainnya dari para generasi dan anak-anak Palestin yang mujahid dan ikhlas. Demikianlah pasukan perlawanan yang berdiri tegak menghadang bahaya dan berbagai ancaman; enggan membiarkan anak-anak dan pemuda mereka yang menjual kehidupan dunia dengan akhirat kecuali ikut serta dan bertarung masuk ke khandak Al-Jihad; sehingga Allah... Allah wahai umat yang mencintai kebaikan.. intifadhah harus terus berjalan... kerana itulah jihad; kemenangan dan syahadah. Semenjak dimulai operasi Zionis Yahudi dengan kekuatan pasukannya terhadap Palestin; imam Al-Banna mengumandangkan para pendukung dan simpatisannya untuk berjihad di Palestin melawan pendudukan dan penjajahan zionis di dalamnya, berusaha dengan kekuatannya memperluas dan memperlebar lintasan dan bantuan bagi para mujahidin di Palestin, beliau dan para ikhwan berusaha memberi komitmen yang tinggi dalam permasalahan Palestin dan fenomena perseteruan dan agresi zionis terhadap bumi yang disucikan bagi seluruh umat dan dunia, dan menjadikan permasalahan Palestin sebagai permasalahan utama. Dan pada akhir tahun 40 an sayap militer al-ikhwan dari Mesir dan lain-lainnya bergerak dan masuk ke negara Palestin untuk berperang, mereka bahu membahu, saling tolong menolong bersama para mujahidin dan penduduk Palestin, namun adanya konspirasi musuh menjadikan imam Al-Banna hidupnya harus dengan harga yang mahal, sehingga beliau mendapatkan syahadah dengan jiwa yang penuh dengan kerelaan di jalan dakwah dan permasalahannya, dan sebahagian al-ikhwanpun ada yang dimasukkan ke dalam penjara. Namun sejak saat itu hingga sekarang tidak pernah terputus hubungan dengan permasalahan dalam berbagai bentuknya dengan warga Palestin, dan tidak dimungkiri oleh seorangpun akan pertumbuhan pemimpin dari para anak dan generasi Palestin, diantara mereka adalah Abu Ammar, Abdullah Azzam, Ahmad Yasin dan kawan-kawannya, serta yang lainnya; diantara mereka ada yang mendapatkan ajalnya, dan ada yang menunggu hingga ajal dan tidak berubah sedikitpun diantara mereka keyakinannya. Berikut ini kami sebutkan realit dan dasar-dasar yang harus disadari bagi semua untuk kemerdekaan bumi Palestin: 1. Bumi Palestin adalah bumi yang suci, dan masjid Aqsha adalah salah satu dari dua kiblat dan ketiga dari tempat-tempat yang disucikan oleh umat Islam, dan bumi ini dan tempat-tempat suci lainnya menjadi tanggungjawab umat untuk berusaha dimerdekakan, melindungi dan mempertahankannya, dan tidak boleh seorangpun untuk mundur walaupun sejengkal menjauh dari bumi Palestin, atau tidak peduli dengan bumi Palestin, ini semua merupakan tanggungjawab jamaah, dan kewajiban syar'i bagi kita semua. 2. Warga Palestin adalah pemilik hak dalam menentukan nasib mereka; baik dalam memilih pemimpin mereka dan menentukan hukum, mengurus segala urusan Negara mereka, dan kita tidak berhak menghalang urusan dalalam mereka, walaupun kita memiliki hak atas mereka -dengan ukhuwah Islam dan tanggungjawab kota-kota suci -dalam memberikan nasihat, bantuan dan dukungan, dan berdiri disamping mereka dengan berbagai cara dan saranan yang disyariatkan; sehingga mereka mendapatkan kemerdekaannya, mendirikan Negara yang merdeka secara penuh atas bumi Palestin yang ibu kotanya adalah Al-Quds, tidak ada seorangpun yang memiliki hak melakukan dialog damai sebagai wakil dari mereka; baik dalam skala lokal, nasional dan dunia. 3. Perlawanan adalah merupakan hak yang disyariatkan dan merupakan kewajiban Islam, yang dijamin oleh undang-undang, amnesty dan kesepakatan antarabangsa, yang merupakan saranan abadi dan klasik untuk mengembalikan hak-hak dan kemerdekaan negeri; kerana itu kami bersama pasukan perlawanan; dalam pengorbanan, sumbangan dan tebusan, dengan berharap kurnia dari Allah SWT. 4. Umat Islam dan non muslim dari warga Palestin memiliki hak untuk hidup di bumi dan negeri Palesina, kerana mereka sebagai warga asli yang memiliki hak untuk hidup dan tinggal disana, sesuai dengan prinsip: "Bagi mereka apa yang diberikan untuk kita, dan atas mereka -hukuman- terhadap apa yang ditimpakan atas kami". 5. Perkhilafan antara kelompok perlawanan Palestin yang terjadi hingga saat ini merupakan perpecahan yang harus segera dilenyapkan; terjadi kerana adanya makar dan muslihat Zionis dan diiringi dengan kelemahan yang diderita oleh rezim Arab dan Negeri-negeri Islam, dan oleh kerana perilaku dari sebahagian individu tertentu  yang mahu mengambil kesempatan (pemilik tujuan peribadi) dan hawa nafsu, yang harus segera dicarikan penyelesainya dengan melakukan dialog, kecintaan, ukhuwah dan itsar, pemantauan dan dukungan serta bantuan dari umat yang merupakan suatu kewajiban, dan kami menyadari akan kepentingan itu sehingga kami tetapkan jiwa kami untuk berkhidmah untuk melakukan penyelesaian permasalahan ini dan memberikan segala apa yang mampu kami berikan untuk kejayaan dialog ini. 6. Membuka sekatan dan menghilangkan derita yang dialami oleh warga Palestin, khususnya di Jalur Gaza, yang merupakan kewajiban atas seluruh Negara-negara Arab dan Islam, memberikan dukungan dan bantuan merupakan kewajiban atas umat, dan memberikan jaminan kepadanya kemudahan penyaluran bantuan, membukan jambatan dan lintasan pada garis teritori yang merupakan kewajiban atas lembaga-lembaga tertentu. Dari ini semua kami memberikan peringatan akan pentingnya menghancurkan monopoli Zionis terhadap perekonomian di jalur Gaza, dan khususnya pada bidang sumber alam, lampu, elektrik, air, makanan dan ubat-ubatan serta peringkat-peringkat pengeluaran, industri di dalam jalur tersebut. 7. Negara Palestin merupakan salah satu anggota dalam lembaga "Persatuan Negara-negara Arab" dan lembaga "KTT Arab"; kerana keduanya merupakan lembaga yang harus menunjukkan kewujudan dan peranannya dengan berbagai saranan dan cara untuk mendukung dan memihak terhadap warga Palestin, berdiri tegak disamping mereka bersama pasukan perlawanan Zionis penjajah; sehingga mereka dapat mendirikan Negara mereka yang bebas merdeka dalam erti kata yang sebenarnya. 8. Menolak segala bentuk penyelesaian alternatif dari mendirikan Negara merdeka khususnya Tepi Barat dan Jalur Gaza, dan warga Palestin. dan umat tidak mungkin menerima bersama mereka untuk menyelesaikan itu semua atau dari keduanya bersama negera-negara tetangga. 9. Keragaman dan keberagaman oleh kerana adanya kelompok-kelompok dan lembaga-lembaga dari komponen bangsa Palestin baik di dalam mahupun di luar negeri Palestin merupakan perkara thabi'i (natural), sementara itu saling membantu, dan saling melengkapi serta mengedepankan ruh ukhuwah dan dialog merupakan prinsip yang asas dalam rangka mewujudkan misi dan tujuan, bahawa sasaran yang ingin dicapai adalah kemerdekaan dan mendirikan Negara Palestin yang bebas merdeka yang ibu kotanya adalah Al-Quds. Jika perkara-perkara ini merupakan perwujudan dari tsawabit (ketetapan) dan kilas balik dalam perjalanan menuju kemerdekaan; maka tanggungjawab umat terhadap bumi Palestin; baik Negara, kota-kota suci dan warganya, dan mendirikan negara Palestin merupakan tanggungjawab umat; baik pada masa dahulu, saat ini dan mendatang... dan akan tetap kekal berada di pundak seluruh umat sehigga tercapai cita-cita mereka iaitu kemerdekaan yang diidam-idamkan وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ* بِنَصْرِ اللَّهِ "Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, kerana pertolongan Allah". (Ar-Ruum:4-5) <!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} span.postedby {mso-style-name:postedby;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->

DR. Muhammad Mahdi Akif

Tidak siapa peduli kematian Hamaad...

Pada 14 Februari 2009, hampir sebulan selepas kerajaan pengganas Israel mengumumkan genjatan senjata secara sebelah pihak, seorang kanak-kanak berumur 13 tahun Hammad Silmiya sedang mengembala kambing dan biri-biri di kawasan utara Gaza, kira-kira 500 meter dari sempadan negara haram Israel. Sebuah jip tentera Israel yang sedang mengawal sempadan melepaskan tembakan ke arah Hammad dan kawan-kawannya. Hammad terkena tembakan di kepala dan mati di tempat kejadian. Pembunuhan Hammad tidak langsung menjadi bahan berita - sekadar seorang lagi mangsa di Genting Gaza, di mana kecederaan dan kematian ke atas masyarakat awam terus meningkat dari hari ke hari. Keluarga Hammad masih lagi bersedih dengan pembunuhan ke atas neneknya, dua orang sepupunya berumur 4 dan 18 bulan, dan kemusnahan rumah dan ternakan mereka semasa serangan hendap Israel. "Pagi itu hari Sabtu, Hammad bangun pukul 6 pagi," kata ibu saudara Hammad, Jomai'a, yang berumur 40 tahun. "Dia pergi dengan abangnya dan beberapa orang kawan sebaya untuk mengembala ternakan. Seperti biasa, kira-kira pukul 10 pagi, Hammad menyiapkan sarapan pagi di lapangan. Sebuah kenderaan tentera Israel menembak mereka dan mengenai kepala Hammad." Jomai'a mengeluarkan satu bungkusan plastik dari lilitan selendangnya, lalu membuka bungkusan tersebut. Dalam satu sampul surat kecil ada sekeping gambar Hammad - satu-satunya gambar anak muda tersebut, yang diambil ketika berumur 7 tahun. Gambar-gambar Hammad yang lain semuanya hilang di bawah runtuhan rumah mereka. "Hammad tidak ubah seperti anak kesayangan saya sendiri, kerana saya tidak mempunyai anak, dan dia selalu tidur di sisi saya," kata Jomai'a. "Bila dia perlu sesuatu, dia akan minta dari saya. Orang selalu kata Hammad bukan saja ada satu ibu, tapi dua ibu - ibu sebenarnya dan juga saya. Sebahagian dari jiwa saya dimiliki oleh Hammad. Sekarang (sebahagian dari jiwa saya) sudah tidak ada lagi, dan pergi bersama-sama Hammad." [caption id="attachment_2376" align="alignleft" width="300" caption="Ibu saudara Hammad, Jomai'a (kiri) dan ibunya, Salma (kanan)"]Ibu saudara Hammad, Jomai'a (kiri) dan ibunya, Salma (kanan)[/caption] Hammad berhenti sekolah beberapa bulan lalu untuk bekerja sepenuh masa sebagai penternak dan membantu keluarga. "Saya cuba memaksa dia kembali ke sekolah tapi dia hanya memikirkan tentang kerja-kerjanya dengan kambing dan menunggang keldainya." kata Jomai'a. "Dia sangat terikat dengan ternakan. Bila balik dari sekolah, dia akan meninggalkan bagnya dan terus berlari mendapatkan ternakannya. Malam sebelum dia dibunuh saya telah bermimpi tentang kenduri perkahwinan, satu petanda buruk bagi masyarakat kami. Bila mereka memberitahu saya tentang kecederaan Hammad, saya tahu dia telah mati kerana saya dapat melihat dia sebagai mempelai dalam mimpi saya." Ibu Hammad, Salma, duduk di sebelah Jomai'a dalam khemah sementara yang dibina bersebelahan runtuhan rumah mereka di Ya-as-Salama. Runtuhan dan kemusnahan dahsyat dapat dilihat di sekeliling mereka. Keluarga Badwi ini datang ke Gaza sebagai pelarian dari Beersheba pada tahun 1948 dan menetap di daerah Hay-as-Salama. Sebelum serangan ganas Israel, mereka tinggal di rumah batu dan memiliki ladang ternakan bersebelahan zon rizab keselamatan. Kawasan tersebut merupakan daerah yang pertama diserang tentera darat Israel Januari lalu. "Kereta kebal Israel mula menembak kawasan kami pukul 2 pagi pada 5 Januari," cerita Jomai'a. "Bom yang pertama mengenai rumah kami, dan saya lari ke bilik ibu saya kerana dia sudah tua berumur 80 tahun dan hanya terlantar di atas katil. Tiba-tiba bom yang kedua menimpa rumah kami lagi, dan kami terpaksa lari, meninggalkan ibu saya. Kami tak ubah seperti kambing-kambing ketakutan apabila melihat pintu kurungan dibuka. Kami menuju ke Jabaliya, kemudian ke Zeitoun untuk berteduh di sekolah. Setiap hari saya merayu kepada pasukan ambulan dan medik membantu saya untuk pergi memindahkan ibu. Malahan saya bersedia untuk berjalan kaki di hadapan ambulan, mengibar bendera putih. Tapi suasana terlalu merbahaya dan mereka tidak dapat membantu." Bila keluarga Silmiya kembali ke kediaman mereka pada 18 Januari, mereka dapat rumah tersebut ranap dimusnahkan oleh serangan F-16. Mereka mengambil masa selama 3 hari untuk mencari mayat nenek Hammad dari bawah runtuhan. Hammad dikebumikan bersebelahan neneknya hanya beberapa minggu kemudian. Oleh kerana kawasan tersebut terletak berdekatan dengan sempadan, beberapa orang yang prihatin telah datang untuk membantu mereka. Kem pelarian terdekat tidak sesuai untuk mereka kerana mereka perlu tinggal berdekatan dengan ladang ternakan, tambahan pula keluarga Badwi lebih suka tinggal bersendirian. [caption id="attachment_2377" align="alignleft" width="300" caption="Keluarga Silmiya berteduh di hadapan runtuhan rumah mereka"]Keluarga Silmiya berteduh di hadapan runtuhan rumah mereka[/caption] "Peperangan masih belum berakhir," kata ibu Hammad, Salma. "Tidak pernah sunyi di Gaza, kami kerap melihat F-16 di langit. Tapi Hammad tidak pernah takut. Dia sungguh tabah dan penuh bertenaga. Adiknya pernah berharap supaya tentera Israel membunuh Hammad, kerana semua orang sayangkan Hammad. Sekarang dia tidak mahu lagi membawa makanan atau minuman ke ladang ternakan, kerana Hammad ditembak askar Israel ketika sedang menyiapkan makanan." Beberapa hari sebelum ditembak, Hammad kecewa dengan peristiwa keldainya bersama-sama 60 ekor kambing dan 3 ekor lembu milik bapanya ditembak oleh askar Israel. Bapanya yang bernama Barrak Salem Salaam Silmiya sudah berumur 47 tahun. "Kami mahukan kedamaian, tapi mana dia (keamanan)? Mana hak kemanusiaan di Gaza?" tanya Barrak sambil menunjukkan bangkai ternakan yang masih terapung dalam takungan selut sekeliling runtuhan rumahnya.   [caption id="attachment_2378" align="alignleft" width="300" caption="Bapa Hammad, Barrak Salem Salaam Silmiya. Di sekelilingya kelihatan bangkai ternakan dan runtuhan rumah mereka yang diranapkan dengan letupan bom tentera Israel."]Bapa Hammad, Barrak Salem Salaam Silmiya. Di sekelilingya kelihatan bangkai ternakan dan runtuhan rumah mereka yang diranapkan dengan letupan bom tentera Israel.[/caption] "Hammad hanyalah seorang budak 13 tahun. Semua orang melihat dia sebagai seorang budak kecil, tapi mereka masih tembak dia. Dia sangat pintar dan baik dengan ternakan. Malahan dia selalu menjual susu dan keju di pasar. Apa lagi yang dapat saya ceritakan tentang anak saya? Tidak ada apa lagi yang saya boleh ceritakan tentang dia. Negara-negara besar tidak berdaya melawan Israel, apa yang kami boleh buat? Saya rasa sudah tidak ada apa-apa lagi. Kawasan ini hanya ada rumah-rumah dan  lorong-lorong. Tidak ada apa lagi yang tinggal...." "15 hari sejak kematian Hammad seperti 500 (hari.) Hammad berkulit gelap, dan kacak. Sekarang saya tidak lagi dapat merasa keenakan makanan yang disuap. Setiap orang (yang berjumpa dengan Hammad waktu pagi dia ditembak) kata dia tampak begitu kacak," tambah Jomai'a. "Ini bukanlah peperangan terhadap sebuah kerajaan atau negara. Israel bunuh kami seperti binatang dan anjing, dan tidak ada siapa yang berjuang membantu kami." [Sumber: Ezedden Information Office]

Kanak-kanak Tebing Barat terus ditangkap atas tuduhan membaling batu

Penaklukan Zionis ke atas kawasan yang diduduki bangsa Palestin semakin meningkat di perkampungan Kifl Hares di kawasan Salfit di utara Tebing Barat, menurut laporan International Women's Peace Service (IWPS) semalam, Ahad 15 Mac 2009. Kejahatan tentera Zionis Israel ke atas bangsa Palestin saban hari berterusan, di mana rumah kediaman diceroboh dan dirosakkan, anak-anak ditangkap, masyarakat awam diugut dengan kekuatan senjata. Menurut IWPS yang kini berada 24 jam di kawasan bandar Salfit, pencerobohan tentera Zionis dan serangan secara tiba-tiba kini semakin kerap dan membimbangkan. Malam Jumaat 13 Mac lalu, tentera Zionis telah memasuki kawasan berdekatan sebuah masjid lama di perkampungan Kifl Hares. Penduduk kampung mendakwa kejadian tersebut berlaku antara pukul 1:30 pagi dan 3:00 pagi. Tentera Zionis telah memecah masuk ke dalam sebuah rumah di mana penghuninya sedang nyenyak tidur, menyerang keluarga tersebut dan menangkap seorang anak berumur 17 tahun yang sedang sakit akibat kerosakan buah pinggang. IWPS melaporkan, "tentera Zionis datang ke rumah mereka kira-kira pukul 2:10 pagi, meledakkan bom untuk membuat bising di belakang dapurnya, kemudian terus memecah masuk ke dalam rumah." Seorang anak lelaki keluarga tersebut, iaitu abang kepada pesakit buah pinggang yang ditangkap, telah diserang dan dihumban ke lantai. Ibu mereka juga dipukul oleh tentera tersebut. Keluarga tersebut yang mempunyai 14 ahli keluarga, termasuk seorang bayi berumur 3 bulan dan seorang wanita yang sedang hamil, kemudiannya dipaksa keluar ke jalan dengan asakan muncung senjata. Mereka dipaksa duduk di jalanan dalam kesejukan dan kegelapan malam, sementara tentera tersebut terus membaling dan meletupkan bom-bom tangan. Malahan mereka juga membaling sebutir bom ke arah seorang wanita hamil. Doktor bagaimanapun mengesahkan wanita tersebut hanya mengalami kecederaan ringan. Tentera Zionis jelas mencari sesuatu dari keluarga tersebut. Mereka merampas semua dokumen pengenalan dan juga sebuah dokumen yang didakwa oleh keluarga tersebut sebagai "sangat penting." Tentera Zionis mendakwa remaja sakit buah pinggang yang berumur 17 tahun tersebut memiliki senjata, tetapi selepas menggeledah rumah dan kawasan sekelilingnya, tidak ada sebarang bentuk senjata ditemui kecuali sepucuk pistol mainan kanak-kanak. Tentera tersebut kemudiannya mengubah taktik dan mendakwa remaja tersebut telah "membaling batu." Malangnya, tarikh-tarikh di mana tentera Zionis mendakwa remaja tesebut membaling batu dibuktikan tidak betul. Remaja tersebut pergi bekerja di Ramallah dan Biddya pada hari tarikh-tarikh yang didakwa. Ini merupakan kejadian ketiga pada tahun ini di mana tentera Israel menyerang rumah keluarga tersebut, kali pertama pada bulan Januari, kemudian lagi pada bulan Februari. Relawan IWPS yang membuat lawatan ke rumah tersebut menceritakan semua yang ada di dalam rumah telah dirosakkan. Sementara itu, penduduk melaporkan kanak-kanak juga ditangkap dari keluarga lain pada malam yang sama. "Seorang kanak-kanak 13 tahun ditangkap tapi dilepaskan 2 jam kemudian," kata seorang relawan antarabangsa. Kanak-kanak tersebut telah dikeluarkan dari jip tentera Israel beberapa batu dari rumahnya, tetapi berjaya pulang ke pangkuan keluarga dengan menumpang orang. Dia tiba pukul 10:00 pagi itu, beberapa jam selepas pengalaman ditangkap tentera Zionis yang mengerikan. Seorang lagi kanak-kanak berumur 15 tahun juga ditangkap dan dibawa ke penjara tentera Huwara yang dibina atas kawasan Nablus di utara Tebing Barat. Manakala seorang kanak-kanak lain berumur 14 tahun ditangkap pada malam yang sama, untuk kali kedua sepanjang hidupnya yang masih sangat muda. Relawan-relawan antarabangsa melaporkan kepada IWPS, "Dia merupakan orang yang pertama dari 4 kanak-kanak yang ditangkap, kemudian dibawa dengan jip tentera mengelilingi kampung sambil tentera Zionis menangkap kanak-kanak lainnya. Dia dibawa ke penjara Ofar [juga di Ramallah]." Kanak-kanak tersebut telah dilepaskan dari penjara Ofar yang sangat terkenal dengan penyeksaan. Bulan lepas keluarganya membayar 2000NIS (400 Euro) untuk melepaskan beliau setelah dua bulan ditahan dan disoal-siasat oleh Zionist. Kanak-kanak adalah antara 11, 000 orang Palestin yang dipenjara oleh Israel, termasuk tahanan politik.

Boikot dan protes - setiap kita ada peranan

9 Mac 2009 baru lalu, pelajar-pelajar Universiti East London (UEL) yang menduduki kampus Docklands selama 2 minggu sebagai protes kepada keganasan Israel ke atas Gaza akhirnya menamatkan protes setelah permintaan mereka ditunaikan. Lebih dari 50 pelajar memulakan protes pada 18 Februari lalu dengan rancangan untuk terus berada di kampus tersebut sehinggalah 7 permintaan mereka ditunaikan, termasuk desakan supaya Naib Canselor mengeluarkan kenyataan mengecam jenayah perang Israel dan sekatan ke atas Gaza. Walau bagaimanapun, mereka menamatkan protes tersebut pada 3 Mac setelah menerima mesej dari pemangku Naib Cancelor, Susan Price, tentang persetujuan untuk memberi biasiswa penuh kepada 6 pelajar dari Gaza setiap tahun. Tindakan solidariti pelajar UEL bukanlah suatu kes yang terpencil di Eropah mahupun Amerika. 7 Februari lalu di Washington, Hampshire College mencipta sejarah dengan menjadi institusi pendidikan yang pertama di Amerika menghentikan sebarang bentuk hubungan dengan syarikat-syarikat yang terlibat dengan pendudukan haram Israel ke atas bumi Palestin. Lebih 800 orang elajar, profesor dan ahli alumni mengeluarkan petisyen supaya dipindahkan kepentingan dan hubungan dengan 6 syarikat berkaitan iaitu Caterpillar, Terex, Motorola, ITT, General Electric dan United Technologies. Manakala pada 28 Februari 2009 pelajar-pelajar Cardiff University mengakhiri 'pendudukan' mereka ke atas dewan kuliah Large Shandon di bangunan utama universiti. Pendudukan tersebut adalah sebahagian daripada projek mereka "occupying against occupation" yang dilancarkan selama tiga hari. Hasilnya? Cardiff University mengalihkan semua saham dan kepentingan mereka daripada British Aerospace (BAe Systems) dan sayap industri angkasa General Electric. Malahan pihak universiti juga bersetuju untuk mengadakan perbincangan menghantar komputer dan sumber-sumber berlebihan lain ke institusi pendidikan di Gaza. Di Eropah secara umumnya, ahli-ahli politik kini mengusulkan soalan-soalan supaya kerajaan mereka melakukan sesuatu yang lebih besar dalam hal kependudukan Israel di Palestin. Contoh yang baik adalah kempen "Break the Silence" yang digerakkan oleh Dutch Labor Party. Parlimen Eropah menghentikan perbincangan untuk mengukuhkan hubungan perdagangan antara Kesatuan Eropah dan Israel. Malahan ada usaha-usaha untuk mengantung lansung perjanjian perdagangan antara mereka. Akhbar-akhbar utama di Eropah kini menerima cetak tulisan dan pandangan berkaitan isu ini, termasuklah akhbar popular The Sunday Times. Di Stockholm, majlis tempatan telah membatalkan perjanjian berbilion Euro dengan Veolia Transport kerana penglibatan syarikat tersebut dalam projek keretapi-ringan di Jerusalem. Di Afrika Selatan, pekerja-pekerja pelabuhan enggan memunggah barangan dari kapal yang didapati membawa produk dari Israel. Tidak terkira banyaknya tunjuk perasaan yang diadakan di serata dunia, dari Cape Town hingga ke Swansea, dan dari Stockholm hinggalah ke Montreal. Mereka telah dapat menarik publisiti media yang cukup berkesan. United Methodist Churuch di Amerika juga menerima petisyen supaya memindahkan kepentingan mereka daripada syarikat yang menyokong atau mendapat keuntungan daripada kependudukan Israel. Begitu juga dengan boikot akademik dan budaya, dan juga usaha untuk membawa pemimpin-pemimpin Israel ke muka pengadilan kerana jenayah perang. Minggu Aparthied Israel yang sedang berjalan dari 1hb hingga 8hb Mac di seluruh dunia membuka ruang kepada aktivis solidariti untuk meneruskan usaha mereka menyedarkan masyarakat dan menggesa kerajaan mereka menghentikan sebarang bentuk sokongan kepada pembanguan kerajaan haram Israel dan juga perniagaan-perniagaan yang menyokong mereka. Bagaimana dengan kita di Malaysia? Kenyataan media yang dikeluarkan oleh beberapa syarikat yang tersenarai sebagai produk yang menyokong atau menyumbang kepada Israel jelas menggambarkan suasana yang tidak selesa bagi mereka. Malahan syarikat-syarikat berkenaan mengambil langkah menurunkan harga sebagai usaha menarik pelanggan, atas alasan masalah ekonomi yang sedang melanda pengguna. Mengapa baru sekarang menurunkan harga? Suatu perkara yang agak pelik di Malaysia apabila peniaga begitu prihatin dan bersimpati dengan pembeli! Apakah kita rakyat Malaysia yang cintakan kedamaian ini sanggup untuk terus memberi nafas kepada pendokong ekonomi dan penjajahan Israel? Setiap kita ada peranan untuk menghentikan sokongan kepada kekejaman Israel ini. Setidaknya, cuba elakkan diri anda, keluarga dan rakan-rakan daripada membeli barangan syarikat yang jelas menyokong Israel. [print_link] [email_link]

Jangan terbuai dengan sandiwara Hillary

Kita tidak perlu menunggu sampai empat tahun lagi untuk membuktikan bahawa Hillary Clinton hanyalah satu 'copy paste' dari Condoleeza Rice. Tidak akan ada perubahan apapun yang dilakukan oleh Setiausaha Negara Amerika itu. Hillary adalah sama seperti Condoleeza. Kedua-dua mereka mempunyai pandangan yang sama, kerana siapa sekalipun yang berkuasa di Rumah Putih, samada Republikan atau Demokrat, tetap akan menjadi hamba atau lembu kepada Israel. Sepanjang pemerintahan Presiden George W Bush, Setiausaha Negara Condoleeza Rice telah melakukan tidak kurang dari 24 kunjungan ke Baitul Maqdis dan Ramallah - dua wilayah yang sekarang ini dijajah dan diduduki secara haram oleh Israel. Kujungan-kunjungan itu tidak dapat sedikitpun merealisasikan apapun yang menjadi "visi" Bush terhadap permasalahan di Palestin sehinggalah berakhirnya tempoh pemerintahan beliau. Di peringkat akhir pemerintahannya, Bush pernah melahirkan visi untuk mewujudkan dua negara "Palestin dan Israel" yang akan hidup berdampingan dengan damai - tidak lain hanyalah satu kebohongan yang amat besar. Kenapa? Pada hakikatnya, Amerika tidak pernah memiliki kekuatan yang dapat memaksa Israel melaksanakan apa yang dikehendaki oleh Bush atau sesiapa saja pemimpin Amerika, dan semuanya menjadi suatu yang membazirkan waktu dan tenaga, sampai berganti presiden berikutnya. Kemudian di masa pemerintahan presiden berikutnya, tentu akan diulang cerita yang hampir sama, mirip sebuah khayalan, berbohong kepada rakyat Arab sehinggalah seluruh bumi Palestin diduduki dan dikuasai Israel. Kebohongan itu diulangi lagi oleh Hillary Clinton yang saban hari menjaja rancangan dua negara "Palestin-Israel" dan senario hidup berdampingan secara damai. Dari kalangan pemimpin dan rakyat Israel, gagasan seperti itu sudahpun ditolak dan dianggap berkubur tanpa sebarang landasan politik. Apalagi, selama ini Washington hanya tunduk kepada rejim Zionis Israel dan tidak sekali-kali pernah memberi ruang kepada aspirasi rakyat Palestin. Ketika rejim Zionis Israel menyerang Gaza, tidak ada satu suarapun dari pemimpin Amerika yang memberi komentar terhadap kekejaman dan kebinatangan tersebut. Bahkan, menjelang saat-saat akhir pemerintahannya, Bush terpaksa akur dan menyokong serangan ganas tersebut, manakala Obama hanya sekadar menyatakan bahawa beliau faham hakikat serangan tersebut - iaitu untuk menghentikan serangan roket Hamas ke wilayah Sderot di selatan negara haram Israel. Zionis Israel membunuh ribuan rakyat Palestin dan menghancurkan hampir segala apa yang ada di Gaza, kemudian Amerika dan masyarakat antarabangsa sibuk membela Israel sambil memujuk dunia Arab dan rakyat Palestin sambil menghulurkan bantuan. Sesudah itu, segala kisah kesengsaraan, pembunuhan dan pembantaian dianggap selesai. Sekarang ini, ketika pemerintahan Israel sibuk melakukan pengusiran terhadap ribuan penduduk bangsa Palestin yang tinggal di Baitul Maqdis, tidak ada suara yang keluar dari pemimpin Amerika, kecuali sekadar komen untuk mengambil hati pemimpin Arab. Zionis membangunkan pemukiman baru secara intensif di kawasan Tebing Barat dan Baitul Maqdis yang penduduknya sudahpun diusir. Jika Amerika benar-benar mendokong rancangan dua negara, sudah tentu pemerintahan Obama tidak akan membiarkan perluasan pemukiman baru tersebut. Sebaliknya, Amerika terus mendorong perluasan pemukiman Yahudi di wilayah yang mereka rompak. Ketika berkunjung ke Baitul Maqdis, Hillary telah bertemu dengan sejumlah tokoh politik Zionis Israel termasuk bakal perdana menteri Banjamin Netanyahu dan menyatakan dengan nada yang tegas "Amerika tetap melindungi keamanan Israel." Apakah Amerika dan Obama masih dapat berfikir dengan waras dan objektif, khususnya dalam menangani persoalan Palestin? Amerika sangat serius dalam memperhatikan keamanan Israel akibat serangan roket dari Gaza yang tidak dapat memberi kesan apa-apa, sedangkan senjata yang dihantar dari Amerika kepada Israel berupa jet F16 dan helikopter Apache serta senjata pembunuh massal lainnya yang digunakan untuk membunuh ribuan rakyat awam Palestin, sama sekali tidak mendapat perhatian dari Obama. Lebih dari 1300 terkorban, lebih 6000 tercedera, ribuan bangunan hancur, sama sekali tidak mendapat perhatian apapun. Inikah pemerintahan Amerika yang demokrasi dan beradab? Jadi pemerintahan Obama, dan Hillary Clinton sebagai peneraju luar negara Amerika, menunjukkan langkah-langkah yang lebih jelas, ingin menjadikan Gaza sebagai "kem konsentrasi," tidak ubah seperti yang dilakukan di zaman Nazi terhadap orang Yahudi. Dan sekarang yang menjadi mangsanya adalah rakyat Palestin, dan yang menjadi jagalnya adalah Israrel dan Amerika. Tidak mungkin Amerika akan membela nasib orang Islam di Palestin, semuanya itu adalah kebohongan dan penipuan besar. Lihatlah, Knesset (Parlimen) Israel telah dikuasai oleh majoriti pemimpin facis tulen dari Parti Likud dan Yisrael Beitenu yang sangat tebal perkauman dan anti-Arab. Dan, pemimpin baru Israel selalu mengatakan "tidak akan ada negara Palestin yang berdaulat." Dan Hillary selalu mengatakan akan bekerjasama dengan pemerintahan baru Israel. Artinya, tidak perlu kita bermimpi dengan jualan Hillary dengan cerita dua negara "Palestin-Israel," kerana perkara itu tidak akan terwujud selagimana rejim Zionis Israel masih berada di atas bumi Palestin. (HP dengan adaptasi dari Eramuslim)